Destinasi Wisata Candi Cetho Peninggalan Kerajaan Majapahit

by -404 views
Wisata Candi Cetho

Destinasi Wisata Candi Cetho, Peninggalan Terakhir Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa – Candi Cetho merupakan tempat bersejarah yang menyimpan banyak cerita, selain itu tempat yang asri dan sejuk karena tempat ini terletak di lereng Gunung Lawu. Candi ini juga menjadi saksi bisu runtuhnya Kerajaan Majapahit. Selain dijadikan tempat wisata, Candi Cetho juga dijadikan tempat beribadah bagi pada penganut ajaran Hindu.

Lokasi Destinasi Wisata Candi Cetho

Candi Cetho berada pada ketinggian 1.496 meter di atas permukaan laut di lereng Gunung Lawu yang terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Candi Cetho memiliki luas sekitar 215 x 30 meter persegi dengan di kelilingi oleh hutan pinus yang rindang.

Sejarah Destinasi Wisata Candi Cetho

Menurut para ahli sejarah Destinasi Wisata Candi Cetho dibangun pada abad ke-15 di akhir masa kejayaan Kerajaan Majapahit Hindu. Bentuk garupa Candi Cetho juga menyerupai bentuk gapura-gapura di Pulau Bali. Candi yang berundak pun menghadap ke barat, menjadi simbol berakhirnya Kerajaan Majapahit. Karena itu candi ini diklaim sebagai peninggal terakhir Kerajaan Majapahit.

Bentuk dari Destinasi Wisata Candi Cetho berbeda dengan bentuk candi Hindu pada umumnya. Bentuk Candi Cetho cukup unik, menyerupai punden berundak. Hal ini dapat disimpulkan jika runtuhnya Majapahit membuat munculnya kembali kebudayaan asli masyarakat sekitar.

Pada tahun 1842 Candi Cetho ditemukan kembali oleh Van de Vlies untuk pertama kalinya setelah Kerajaan Majapahit runtuh. Selain itu para ahli purbakala juga pernah mengadakan penelitian di Candi Cetho ini, yaitu A. J. Bennet Kempers, N. J. Korm, W. F. Sutterheim, K. C. Curcq dan satu orang lagi yang berasal dari Indonesai, Riboet Darmosoetopo.
Penelitian terus berlanjut sampai pada tahun 1928, dan dari situlah diketahui kalau candi ini dibangun pada masa akhir Majapahit di abad 15.

Bangunan Destinasi Wisata Candi Cetho

Candi Cetho memiliki beberapa tingkatan atau teras candi dan setiap tingat tersebut memiliki magna atau pengertian sendiri.

  • Teras 1 – Sebelum memasuki teras pertama, pengunjung akan melewati 2 arca dari batu yang diberi nama Nyai Gemang Arum. Kemudian terdapat gapura besar dan tinggi sebagai pintu masuk teras pertama, bentuknya menyerupai gapura-gapura di Pulau Bali. Teras pertama berupa halaman yang cukup luas. Di bagian selatan teras terdapat pendopo tanpa dinding dengan pondasi setinggi dua meter dan beralaskan batu-batu yang disusun rata, biasanya tempat ini sering dipakai untuk meletakan sesaji.
  • Teras 2 – Memasuki teras kedua pengunjung akan disambut dengan tangga dari batu dengan sebuah gapura. Di samping tangga berdiri arca Nyai Agni dan salah satu dari arca tersebut telah rusak. Teras kedua hamper sama dengan teras pertama, berbentuk menyerupai halaman yang luas, tetapi pada teras kedua terdapat bebatuan yang disusun di tanah dan membentuk burung Garuda dengan sayap bembentang, seolah sedang terbang. Dalam kepercayaan Hindu, Garuda merupakan kendaraan Dewa Wisnu yang melambangan dunia atas. Pada bagian kedua sayap membentuk sinar Matahari dan pada bentuk tersebut juga ditemukan pada kepala Garuda. Sedangkan pada bagian punggung Garuda terdapat batuan yang disusun dan membentuk kura-kura. Konon, kura-kura merupakan titisan Dewa Winsu yang melambangkan dunia bawah. Dalam teras ini juga terdapat gambar segitiga dan sebuah kelamin laki-laki yang disebut dengan Kalacakra, dan itu adalah salah satu alasan kenapa Destinasi Wisata Candi Cetho disebut dengan Candi Lanang.
  • Teras 3 – Terdapat dua buah bangunan tanda dinding dan semacam batu yang menyerupai meja untuk sesaji dengan relief dan binatang pada dingingnya.
  • Teras 4 – Pada teras ini terdapat tangga yang sangat rapi, kemungkinan tanga ini hasil dari pemugaraan atau renovasi.
  • Teras 5 – Pintu masuk teras kelima terdapat sepasang arca Bima sebagai penjaga pintu masuk teras kelima. Pada teras ini terdapan bangunan tanpa dining.
  • Teras 6 – Teras ini terdapat halaman kecil dan sama seperti teras-teras yang lainnya.
  • Teras 7 – Di ujung pintu masuk teras ketujuh terdapat batu yang sangat rapi dan tangga yang diapit oleh patung Ganesha dan sebuah patung Kalacakra. Isi bangunan ini sama dengan bangunan yang lain, bangunan tanpa dinding.
  • Teras 8 – Memasuki teras kedelapan terdapat sebuah tangga dari batu yang dijaga oleh sepasang arca dengan relief aksara jawa berupa angka tahun pembangunan candi.
  • Teras 9 – Pada teras ini terbapat bangunan yang mengadap ke timur (atas) yang berfungsi sebagai ruang penyimpanan benda kuno. Dan tepat di depan bangunan ini terdapat sepasang bangunan. Pada bangunan sebelah kiri terdapat patung Sabdapalon dan di bagian yang lain terdapat patung Nayagenggong. Kedua patung tersebut adalah tokoh punokawan dalam pewayangan.
  • Teras 10 – Pada teras kesepuluh terdapat 6 buah bangunan, 3 di kanan dan 3 di kiri dan saling berhadapan. Di salah satu bangunan sebelah kiri terdapat arca Prabu Brawijaya dan di salah satu bangunan di sebelah kanan terdapat arca Kalacakra. Dan di bangunan paling ujung terdapat tempat menyimpanan pusaka Empu Supa.
  • Teras 11 – Teras kesebelas tersekat dinding setinggi 1,6 meter dengan bangunan di bawahnya. Di teras ini terdapat sebuah banguan utama berupa ruangan tanpa atap berbinding batu dengan tinggi sekitar 2 meter. Luas area ini sekitar 5 meter persegi.

Begitulah gambaran singkat tentang peninggalan terakhir Kerajaan Majapahit yang masih bisa kita nikmati hingga saat ini. Destinasi Wisata Candi Cetho menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi saat hari libur telah tiba. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan juga dapat menjadi referensi wisata Anda di Pulau Jawa.